Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
ISTRI-ISTRI
SUAMIKU
“Bapakmu minta
kawin lagi”, wanita setengah baya itu berucap lemas, “Entah kapan penyakitnya
itu akan hilang”. Wanita berusia empat puluh lima tahun itu menghela nafas
panjang, semakin merasa risih dengan kelakukan sang suami yang semakin hari
semakin keladi. Sudah sangat maklum selama ini ia menghadapi kemauan suaminya
yang hobi menikah. Belum genap satu tahun pernikahan ke tiga suaminya dengan
seorang janda dari tempat ia bekerja. Kini Dirjo sapaan sehari-harinya
mengutarakan keinginan untuk menikahi seorang wanita berusia 28 tahun dari
perkenalannya pada acara hajatan mbak Sumi beberapa bulan lalu.
KESEPIAN-KU
Sunyi, ,,senyap,,,
Tak ada kata yang terucap, dari mulut tak beradab
Kaupun tak bisa beradaptasi dengan mereka
Yang seakan-akan ngajak bercanda tuk menuai sepi akan kata.
Sunyi itu menusukku
Malampun ikut kaku ditengah luapan waktu
Nyamuk mengintip dan menatap isi hatiku
Membakar semua sudut kalbu
Karena kau mendekap inti hidupku
Pesonamu yang hanya terbayang
ketika hidup kehabisan kata-kata menyulam puisicinta
Padahal ketika aku tanya madu, Pasti kau jawabnya empedu.
Tapi, kenapa kau datang dalam istana hatiku!!
lalu hancurkan patung –patung piaraanku !!
Hingga senyumpun, tak mampu menjawab pertanyaan puing-puing sabda,
Semua titah sang raja sudah ku penuhi, tapi kenapa masih ada rajam!!
Inikah undang-undang tuhan yang kau katakan!!
Ketika fajar datang tuk musnahkan embun-embun malam!!
Assalam perpisahan,,,,,
good bye istana penyiksaan…..
selamat tinggal sejarah komedi.
selamat datang tong sampah,,,,
besi-besi sampah yang berpotongan itu sudah tak berguna
“buang sajalah”……..pintaku.
good bye istana penyiksaan…..
selamat tinggal sejarah komedi.
selamat datang tong sampah,,,,
besi-besi sampah yang berpotongan itu sudah tak berguna
“buang sajalah”……..pintaku.
(Kepada Pahlawanku Bapak Disana)
Pak......
Sujud syukurku selalu tersungkur di bawahmu
Ketika mentari menangisi embun pagi
Ketika sang surya mengintip jagad raya
Dalam diamku, ku masih menyebut namamu
Diantara bias sang surya
Waktu lilin menyelinap di kaca
Pesonamu yang hanya terbayang
ketika hidup kehabisan kata-kata menyulam puisi cinta
Padahal ketika aku tanya madu, Pasti kau jawabnya empedu.
Tapi, kenapa kau datang dalam istana hatiku!!
lalu hancurkan patung –patung piaraanku !!
ketika hidup kehabisan kata-kata menyulam puisi cinta
Padahal ketika aku tanya madu, Pasti kau jawabnya empedu.
Tapi, kenapa kau datang dalam istana hatiku!!
lalu hancurkan patung –patung piaraanku !!
Langganan:
Postingan (Atom)
